Liganesia – Nama panggung biasanya menjadi identitas seorang DJ ketika berada di atas panggung. Namun bagi DJ Xylos, nama tersebut memiliki makna yang jauh lebih personal. Di balik nama yang kini digunakan dalam berbagai penampilannya di Bali, terdapat cerita tentang sang ayah, masa kecil di pedalaman Maluku, serta perjalanan panjang yang membentuk dirinya hingga menjadi seorang ASN sekaligus DJ.
DJ Xylos memiliki nama asli Chandra Hendrawan (25), pria asal Majalengka, Jawa Barat, yang kini menetap di Bali. Selain bekerja sebagai ASN PPPK dan menempuh pendidikan tinggi, ia juga aktif mengembangkan karier di industri musik elektronik melalui nama Xylos.
Nama tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Xylos berasal dari kata Yunani “xylo” yang berarti kayu. Bagi Chandra, kata tersebut memiliki hubungan erat dengan sosok ayahnya yang sejak lama bekerja sebagai tukang kayu.
“Xylos bukan sekadar nama panggung. Nama itu mengingatkan saya pada asal-usul, perjuangan, dan kerja keras ayah yang membawa saya sampai di titik ini,” ujar Xylos.
Cerita tersebut berawal dari masa kecil Chandra di Kepulauan Sula, Maluku Utara. Saat itu, ia tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai tukang kayu. Mereka menempati sebuah kamar kayu sederhana di atas bukit yang dikelilingi hutan.
Kehidupan di tempat tersebut jauh dari fasilitas yang kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Listrik dan internet belum tersedia, sementara kebutuhan air harus dipenuhi dengan mengambilnya dari sumur yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat tinggal.
Perjalanan menuju sekolah juga tidak mudah. Chandra harus berjalan kaki selama sekitar 35 menit hingga satu jam setiap hari. Kondisi tersebut menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil dan secara perlahan membentuk karakter serta cara pandangnya terhadap kehidupan.
Di tengah keterbatasan itu, ia mulai memahami pentingnya pendidikan. Dengan latar belakang orang tua yang tidak mengenyam pendidikan formal, Chandra terbiasa mencari tahu berbagai hal mengenai masa depan secara mandiri.
“Orang tua saya tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan tidak banyak mengajarkan tentang perencanaan masa depan. Karena itu saya belajar mencari tahu semuanya sendiri,” ungkapnya.
Kemandirian tersebut kemudian semakin terlihat ketika ia beranjak remaja. Sejak berusia 16 tahun, Chandra mengaku sudah tidak lagi meminta uang kepada kedua orang tuanya. Ketika memilih sekolah menengah atas, ia mencari sendiri sekolah yang seluruh biaya pendidikannya ditanggung negara agar tidak menambah beban ekonomi keluarga.
Baginya, pendidikan menjadi salah satu cara untuk mengubah keadaan.
“Dari dulu saya berpikir, kalau ingin mengubah hidup, saya harus belajar. Tidak ada jalan lain,” katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA pada 2021, Chandra kemudian memutuskan untuk merantau ke Bali. Ia datang dengan kondisi yang sederhana dan harus membangun kehidupannya dari bawah. Sambil bekerja, ia juga melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Selama beberapa tahun, pekerjaan dan kuliah dijalani secara bersamaan. Waktu yang dimilikinya harus dibagi antara pekerjaan, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari. Penghasilan yang diperoleh saat itu masih di bawah upah minimum, tetapi kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti mengejar pendidikan.
Perlahan, kerja keras tersebut mulai menghasilkan pencapaian. Pada 2024, Chandra berhasil menjadi ASN PPPK. Setahun kemudian, ia menyelesaikan pendidikan S1 dan melanjutkan studi ke jenjang S2.
Pada 2026, ia kembali mengambil program S1 di bidang lain. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan masih menjadi bagian penting dalam kehidupannya, bahkan ketika ia sudah memiliki pekerjaan dan mulai membangun karier di dunia musik.
“Satu-satunya hal yang membuat saya kecanduan adalah belajar,” ujarnya.
Di sela kesibukan sebagai ASN dan mahasiswa, Chandra mulai serius menekuni musik elektronik. Nama Xylos yang awalnya dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada sang ayah kemudian berkembang menjadi identitas profesionalnya di dunia DJ.
Dalam prosesnya, ia banyak mendapatkan pembelajaran dari DJ senior Oman Bean. Tidak hanya mengenai musik, Xylos juga belajar memahami industri hiburan, membangun relasi, membaca karakter audiens, serta menjaga profesionalitas dalam setiap pekerjaan.
Karier tersebut kemudian berkembang melalui berbagai kesempatan tampil di Bali. Belakangan ini, DJ Xylos tercatat tampil di Avera Bali Nightclub dan menjadi bagian dari Thank God It’s Festival (TGIF) Bali di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) dalam rangkaian kegiatan bersama Indosat.
Pengalamannya juga tidak hanya berada di panggung nightclub dan festival. Xylos turut mengisi berbagai acara dengan karakter berbeda, mulai dari wedding after party, private party di sailing boat, event running, hingga perayaan ulang tahun.
Bagi Xylos, keberagaman acara tersebut memberikan pengalaman tersendiri. Setiap acara memiliki suasana dan karakter audiens yang berbeda sehingga seorang DJ harus mampu menyesuaikan musik serta cara membangun atmosfer.
“Setiap event punya karakter yang berbeda. Kalau di nightclub mungkin energinya lebih tinggi, sementara wedding, private party, atau running event punya suasana yang berbeda. Buat saya justru itu yang membuat perjalanan sebagai DJ menjadi menarik karena selalu ada hal baru yang bisa dipelajari,” jelasnya.
Perkembangan tersebut membuat nama Xylos perlahan memiliki ruang tersendiri dalam perjalanan musiknya. Ia tidak hanya tampil dalam satu jenis acara, tetapi mulai mendapatkan pengalaman dari berbagai format entertainment yang ada di Bali.
Meski demikian, musik bukan satu-satunya bidang yang sedang dibangun. Di balik aktivitasnya sebagai DJ, Xylos tetap menjalankan tanggung jawab sebagai ASN dan terus melanjutkan pendidikan.
Menurutnya, ketiga aktivitas tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Pekerjaan menjadi tanggung jawab profesional, pendidikan menjadi proses untuk terus menambah pengetahuan, sedangkan musik menjadi ruang untuk menyalurkan kreativitas dan membangun pengalaman di industri entertainment.
Menjalani beberapa bidang sekaligus tentu membutuhkan komitmen dan kemampuan mengatur waktu. Namun, pengalaman hidup sejak kecil membuat Xylos terbiasa menjalani proses yang tidak selalu mudah.
Ia juga tidak melihat masa mudanya sebagai sesuatu yang harus dijalani dengan cara yang sama seperti orang lain.
“Gapapa masa muda saya tidak seperti orang lain pada umumnya. Yang penting saya terus bergerak maju. Saya percaya hasil tidak pernah mengkhianati usaha,” tuturnya.
Kini, nama Xylos tidak hanya menjadi pengingat terhadap profesi sang ayah. Nama tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan Chandra dalam membangun identitasnya sendiri di Bali.
Ada cerita keluarga di dalamnya, ada masa kecil yang penuh keterbatasan, ada perjuangan mendapatkan pendidikan, serta ada perjalanan merantau dan membangun kehidupan dari awal.
Dari sebuah kamar kayu sederhana di pedalaman Kepulauan Sula, Chandra kemudian tumbuh menjadi seorang profesional yang menjalani berbagai peran.







