Liganesia – Suporter PSIM Yogyakarta kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masa depan Stadion Mandala Krida.
Kali ini, kelompok pendukung yang tergabung dalam Guyub Seni (GS) Mataram menggelar aksi mural serentak di berbagai titik wilayah Yogyakarta sebagai bentuk aspirasi sekaligus kritik terhadap belum tuntasnya penanganan kasus dugaan korupsi renovasi stadion tersebut.
Aksi yang berlangsung pada awal Juni 2026 itu menarik perhatian publik karena dilakukan dengan cara yang berbeda.
Tidak melalui demonstrasi besar atau kampanye di media sosial, para suporter memilih menyampaikan pesan melalui karya seni mural yang dapat langsung dilihat masyarakat.
Langkah ini menjadi simbol bahwa suara suporter tidak hanya hadir di tribun stadion, tetapi juga dalam upaya mengawal isu yang dianggap penting bagi perkembangan olahraga di Yogyakarta.
Mandala Krida Jadi Sorotan Utama
Stadion Mandala Krida selama ini dikenal sebagai markas kebanggaan PSIM Yogyakarta sekaligus salah satu fasilitas olahraga penting di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, berbagai persoalan yang muncul pascarenovasi membuat stadion tersebut terus menjadi perhatian publik.
Kasus dugaan korupsi dalam proyek renovasi yang belum sepenuhnya selesai dinilai telah menghambat pemanfaatan stadion secara maksimal.
Kondisi ini memunculkan kekecewaan dari berbagai pihak, termasuk komunitas suporter yang selama ini memiliki ikatan emosional kuat dengan stadion tersebut.
Melalui aksi mural, para pendukung PSIM ingin mengingatkan bahwa penyelesaian kasus hukum yang transparan menjadi langkah penting agar Mandala Krida dapat kembali berfungsi optimal.
Mengusung Satu Pesan, Banyak Bentuk Kreativitas
Meski dilakukan oleh berbagai kelompok suporter dan komunitas, aksi mural ini membawa pesan yang sama, yaitu mendorong penyelesaian kasus Mandala Krida hingga tuntas.
Menariknya, setiap kelompok diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pesan tersebut melalui konsep visual yang berbeda.
Hasilnya, muncul beragam karya mural dengan gaya dan karakter masing-masing, tetapi tetap memiliki tujuan yang serupa.
Pendekatan ini membuat pesan yang ingin disampaikan terasa lebih dekat dengan masyarakat. Selain itu, seni mural dianggap mampu menjadi media komunikasi yang efektif karena dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa batasan usia maupun latar belakang.
Bukan Hanya Urusan Suporter PSIM
Salah satu poin penting yang disampaikan dalam aksi ini adalah bahwa Mandala Krida bukan hanya milik PSIM atau para suporternya.
Stadion tersebut merupakan fasilitas publik yang juga digunakan oleh berbagai cabang olahraga serta masyarakat umum. Karena itulah, isu mengenai keberlangsungan dan pengelolaan stadion dianggap sebagai kepentingan bersama.
Aksi mural ini pun terbuka bagi komunitas seni, pegiat olahraga, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap perkembangan fasilitas olahraga di Yogyakarta.
Dengan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, pesan yang dibawa diharapkan menjadi lebih kuat dan mendapatkan perhatian yang lebih luas.
Digelar di Berbagai Wilayah untuk Dekat dengan Warga
Alih-alih terpusat di satu lokasi, pengerjaan mural dilakukan di berbagai wilayah yang menjadi basis masing-masing kelompok suporter dan komunitas.
Strategi ini dipilih agar proses komunikasi dengan warga sekitar lebih mudah dilakukan. Selain itu, kehadiran mural di lingkungan masyarakat dinilai mampu menciptakan diskusi publik mengenai kondisi Mandala Krida dan pentingnya penyelesaian berbagai persoalan yang masih berlangsung.
Pendekatan berbasis komunitas juga membuat aksi berlangsung lebih tertib sekaligus memberikan ruang bagi warga untuk memahami isu yang sedang diperjuangkan.
Harapan Besar untuk Masa Depan Mandala Krida
Melalui gerakan kreatif ini, para suporter berharap seluruh permasalahan yang berkaitan dengan Stadion Mandala Krida dapat segera menemukan titik terang.
Tidak hanya dari sisi hukum, tetapi juga terkait aspek administrasi, pengelolaan, hingga peningkatan fasilitas stadion agar dapat digunakan secara maksimal oleh masyarakat dan klub kebanggaan Yogyakarta.
Keberadaan stadion yang layak dan nyaman tentu menjadi kebutuhan penting bagi perkembangan olahraga daerah. Apalagi PSIM Yogyakarta kini terus berupaya meningkatkan prestasi dan membutuhkan fasilitas yang memadai untuk mendukung aktivitas tim.
Seni Jadi Sarana Menyuarakan Kepedulian
Aksi mural serentak yang dilakukan suporter PSIM menunjukkan bahwa dukungan terhadap klub tidak selalu diwujudkan melalui nyanyian di tribun atau dukungan saat pertandingan berlangsung.
Lewat karya seni yang penuh pesan, para pendukung berhasil menunjukkan kepedulian terhadap isu yang lebih luas, yakni keberlangsungan fasilitas olahraga yang menjadi bagian penting dari identitas kota.
Kini, harapan besar tertuju pada penyelesaian kasus Mandala Krida agar stadion bersejarah tersebut dapat kembali menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta serta rumah yang layak bagi PSIM untuk menatap musim-musim mendatang.






