Liganesia – Real Madrid tengah berada dalam periode yang tidak biasa. Klub yang dikenal sebagai raksasa sepak bola Eropa itu kini harus menerima kenyataan pahit setelah gagal meraih satu pun trofi dalam dua musim terakhir. Situasi ini tentu menjadi sorotan besar, mengingat standar tinggi yang selalu melekat pada Los Blancos.
Nama besar seperti Kylian Mbappe yang didatangkan dengan ekspektasi tinggi ternyata belum mampu membawa perubahan signifikan bagi performa tim.
Bahkan, kondisi internal klub disebut-sebut sedang tidak baik, mulai dari performa di lapangan hingga pergantian pelatih di tengah musim.
Legenda Real Madrid, Toni Kroos, ikut angkat bicara soal keterpurukan mantan klubnya tersebut. Mantan gelandang asal Jerman itu menilai kegagalan Madrid dalam dua musim terakhir merupakan sesuatu yang sulit diterima untuk klub sebesar Real Madrid.
Real Madrid Gagal Total Meski Diperkuat Kylian Mbappe
Saat Real Madrid berhasil mendatangkan Kylian Mbappe, banyak fans percaya era baru kejayaan akan segera dimulai.
Pemain asal Prancis itu digadang-gadang menjadi sosok pembeda yang mampu membawa Madrid kembali mendominasi Spanyol dan Eropa. Namun kenyataannya justru berbeda.
Musim 2024/2025 menjadi awal penurunan performa Real Madrid. Meski sempat mengangkat trofi Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub sebelum musim dimulai, performa tim perlahan mengalami penurunan drastis saat kompetisi berjalan.
Permainan Madrid dinilai tidak stabil, lini pertahanan sering bermasalah, dan konsistensi menjadi isu besar sepanjang musim.
Harapan bangkit di musim 2025/2026 juga tidak terwujud. Real Madrid kembali menutup musim tanpa satu pun gelar juara. Situasi tersebut membuat tekanan terhadap manajemen, pemain, hingga staf pelatih semakin besar.
Toni Kroos Menilai Situasi Madrid Sudah Tidak Normal
Toni Kroos yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting kesuksesan Real Madrid mengaku cukup terkejut melihat kondisi mantan klubnya saat ini.
Menurutnya, gagal meraih trofi selama dua musim berturut-turut bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa bagi klub sebesar Real Madrid. Kroos menilai ada masalah internal yang memengaruhi performa tim secara keseluruhan.
Dalam beberapa kesempatan, Kroos juga menyinggung bahwa performa buruk di lapangan biasanya berasal dari situasi internal yang kurang sehat.
Hal itu terlihat dari permainan Madrid yang kehilangan identitas dan mental juara yang selama ini menjadi ciri khas mereka.
Banyak pengamat sepak bola juga menilai Madrid saat ini sedang mengalami masa transisi yang belum berjalan mulus.
El Clasico Jadi Simbol Keterpurukan Madrid
Puncak kekecewaan fans Real Madrid musim ini terjadi saat kalah dari Barcelona dalam El Clasico terakhir musim ini. Kekalahan 0-2 tersebut bukan hanya membuat Madrid kehilangan gengsi, tetapi juga memastikan rival abadinya meraih gelar LaLiga.
Barcelona tampil jauh lebih solid dan konsisten sepanjang musim, sementara Madrid terlihat kesulitan menemukan ritme permainan terbaiknya.
Kroos bahkan menyebut kekalahan tersebut terasa bisa diprediksi sejak sebelum pertandingan dimulai. Menurutnya, motivasi saja tidak cukup jika kondisi tim secara keseluruhan sedang bermasalah.
Kondisi ini semakin memperlihatkan perbedaan stabilitas antara Barcelona dan Real Madrid dalam dua musim terakhir.
Pergantian Pelatih Jadi Bukti Ada Masalah Besar
Salah satu momen paling mengejutkan di musim 2025/2026 adalah pergantian pelatih di tengah kompetisi. Xabi Alonso yang sebelumnya dipercaya membangun era baru Real Madrid akhirnya harus meninggalkan kursi kepelatihan sebelum musim selesai. Posisinya kemudian digantikan oleh Alvaro Arbeloa.
Pergantian tersebut memunculkan banyak spekulasi mengenai situasi ruang ganti dan arah proyek klub. Sebab, pergantian pelatih di tengah musim biasanya terjadi ketika manajemen merasa situasi sudah cukup darurat.
Meski Arbeloa mencoba membawa energi baru, hasil di lapangan belum menunjukkan perubahan signifikan.
Apa yang Salah dengan Real Madrid?
Kegagalan Real Madrid dalam dua musim terakhir tentu tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang dianggap berkontribusi terhadap menurunnya performa klub, di antaranya sebagai berikut!
1. Adaptasi Pemain Baru Belum Maksimal
Meski memiliki skuad bertabur bintang, chemistry antarpemain dinilai belum benar-benar solid.
2. Kehilangan Sosok Senior
Kepergian beberapa pemain senior membuat keseimbangan tim berubah drastis. Madrid dianggap kehilangan figur pemimpin di lapangan.
3. Inkonsistensi Taktik
Perubahan strategi dan pergantian pelatih membuat permainan Madrid terlihat belum memiliki identitas yang jelas.
4. Tekanan Besar dari Ekspektasi Fans
Sebagai klub terbesar dunia, tekanan untuk selalu juara membuat situasi semakin sulit ketika hasil tidak sesuai harapan.
Bisakah Real Madrid Bangkit Musim Depan?
Meski sedang terpuruk, banyak pihak percaya Real Madrid tidak akan tinggal diam terlalu lama. Klub ini dikenal punya mentalitas besar untuk bangkit setelah masa sulit.
Bursa transfer musim panas nanti diperkirakan akan menjadi momen penting bagi Madrid untuk melakukan evaluasi besar-besaran. Tidak menutup kemungkinan akan ada perekrutan pemain baru, perombakan skuad, perubahan strategi permainan, dan restrukturisasi manajemen tim.
Selain itu, masa depan beberapa pemain juga mulai menjadi bahan perbincangan, termasuk bagaimana klub membangun tim di sekitar Kylian Mbappe.
Real Madrid Sedang Diuji, Tapi Belum Habis
Dua musim tanpa gelar memang menjadi pukulan besar bagi Real Madrid. Klub yang terbiasa mendominasi kini harus menghadapi kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk mantan pemainnya sendiri seperti Toni Kroos.
Namun dalam sejarah sepak bola, Real Madrid sudah beberapa kali melewati masa sulit dan tetap mampu bangkit menjadi kekuatan besar. Situasi saat ini bisa menjadi momentum evaluasi untuk membangun tim yang lebih solid di masa depan.
Yang jelas, fans Los Blancos tentu berharap musim depan menjadi titik balik kebangkitan mereka setelah dua tahun penuh kekecewaan.






