LIGANESIA – Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai dugaan penerimaan pembayaran tambahan dari perusahaan penyelenggara Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Informasi yang diungkap media Inggris, The Times, tersebut memunculkan pertanyaan mengenai transparansi penghasilan pimpinan tertinggi sepak bola dunia itu.
Berdasarkan laporan investigasi yang ditulis Martyn Ziegler, Infantino diduga menerima penghasilan dari dua sumber berbeda, yakni FIFA dan FWC2026 US Inc, perusahaan yang dibentuk untuk menangani penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.
Temuan tersebut memicu perdebatan mengenai keterbukaan finansial di tubuh FIFA. Terlebih, organisasi sepak bola dunia itu memiliki aturan yang mengharuskan kompensasi bagi sejumlah pejabat tertingginya diumumkan kepada publik.
Isu ini muncul ketika Infantino juga menghadapi kritik atas sejumlah keputusan dan kebijakan FIFA. Sebelumnya, pemberian FIFA Peace Prize perdana kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta gagasan komersialisasi Piala Dunia turut menjadi bahan perbincangan.
Kontroversi yang berkembang bahkan disebut berdampak terhadap dukungan politik bagi pencalonan kembali Infantino. Inggris, Skotlandia, dan Irlandia dilaporkan menarik dukungan tertulis mereka menjelang Maret, sementara Jerman dan Prancis juga disebut berpotensi mengambil langkah serupa.
Laporan Ungkap Dugaan Penghasilan dari Dua Sumber
Salah satu poin utama dalam laporan The Times adalah perbedaan sumber pembayaran yang diterima Infantino.
Dalam laporan tahunan FIFA, penghasilan Infantino tercatat mencapai 4,274 juta franc Swiss. Namun, dokumen keuangan FWC2026 US Inc yang disampaikan kepada Internal Revenue Service (IRS) Amerika Serikat menunjukkan adanya pembayaran tambahan sebesar 1,76 juta dolar AS pada 2024.
Pembayaran dari perusahaan penyelenggara Piala Dunia tersebut menjadi perhatian karena tidak diungkapkan secara terbuka dalam laporan tahunan FIFA sebagaimana penghasilan utamanya.
Laporan itu juga menyebut sejumlah sumber yang mengklaim Infantino menerima pembayaran serupa, atau bahkan dalam jumlah lebih besar, pada 2025 dan 2026. Meski demikian, rincian mengenai pembayaran pada tahun-tahun tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Menariknya, pembayaran tambahan tersebut dilaporkan tidak diberikan kepada Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom. Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, yang juga menjabat sebagai ketua dewan FWC2026, turut disebut tidak menerima pembayaran serupa.
Dari pembayaran FWC2026 sebesar 1,76 juta dolar AS pada 2024, sebanyak 626.229 dolar AS tercatat sebagai kompensasi lain di luar gaji pokok dan bonus.
Perbedaan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai dasar pemberian pembayaran, mekanisme penetapannya, serta alasan informasi tersebut tidak disampaikan secara terbuka dalam laporan keuangan FIFA.
Dugaan Penggunaan Properti Mewah di Miami Ikut Disorot
Selain persoalan pembayaran, laporan tersebut turut menyinggung penggunaan sebuah rumah mewah di Miami yang dikaitkan dengan Infantino menjelang Piala Dunia 2026.
Properti tersebut berada di Sunset Islands, kawasan eksklusif Miami Beach yang dikenal memiliki akses terbatas dan pengamanan ketat. Rumah itu dilengkapi fasilitas mewah, termasuk kolam renang dan dermaga pribadi.
Properti tersebut diketahui dibeli mantan CEO Google, Eric Schmidt, dengan harga 27 juta dolar AS pada 2023. Infantino disebut pernah menggunakan rumah itu sebelum diyakini meninggalkannya pada akhir 2025.
Sejumlah sumber mempertanyakan kemungkinan hubungan antara pembayaran tambahan dari FWC2026 dan pembiayaan penggunaan properti tersebut. Namun, belum ada konfirmasi yang memastikan bahwa dana itu benar-benar digunakan untuk kebutuhan tersebut.
Karena itu, dugaan mengenai pembiayaan gaya hidup pribadi tersebut perlu dibedakan dari fakta pembayaran yang tercantum dalam dokumen keuangan. Hubungan antara kedua hal itu belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia.
Mantan Pejabat FIFA Desak Penjelasan Transparan
Mantan Ketua Komite Tata Kelola FIFA, Miguel Maduro, menilai persoalan tersebut perlu mendapatkan pemeriksaan independen.
Ia merujuk Pasal 43 Ayat 13 Statuta FIFA yang mengatur keterbukaan kompensasi bagi presiden, anggota dewan, dan sekretaris jenderal organisasi.
Menurut Maduro, kewajiban transparansi tidak seharusnya terbatas pada gaji utama. Pembayaran lain dari perusahaan yang memiliki hubungan dengan FIFA juga perlu dijelaskan apabila termasuk dalam remunerasi yang diterima presiden organisasi.
Maduro menegaskan bahwa persoalannya bukan terletak pada besarnya penghasilan Infantino, melainkan pada keterbukaan mengenai sumber dan bentuk pembayaran tersebut.
Ia berpandangan bahwa presiden FIFA layak memperoleh kompensasi tinggi, tetapi setiap komponen penghasilan harus disampaikan secara transparan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, The Times dilaporkan telah meminta penjelasan FIFA mengenai pembayaran tambahan tersebut. Namun, tanggapan organisasi itu belum memberikan penjelasan mengenai alasan pembayaran dari FWC2026 tidak dicantumkan dalam laporan tahunan yang dipersoalkan.
Perkembangan ini menempatkan transparansi keuangan sebagai isu penting bagi FIFA menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Penjelasan resmi, pemeriksaan dokumen, dan hasil penyelidikan independen akan menjadi faktor penting untuk memperjelas persoalan tersebut serta menentukan apakah terdapat pelanggaran terhadap aturan organisasi.







