Liganesia – Perjuangan Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri di Singapore Open 2026 harus berakhir dengan hasil yang belum sesuai harapan.
Ganda putra andalan Indonesia tersebut kembali finis sebagai runner-up setelah kalah dari pasangan India, Satwiksairaj Rankireddy dan Chirag Shetty, pada partai final.
Bermain di Singapore Indoor Stadium, Fajar/Fikri sebenarnya sempat menunjukkan performa menjanjikan dengan merebut gim pertama.
Namun pasangan India mampu bangkit dan membalikkan keadaan hingga akhirnya memenangkan pertandingan dalam tiga gim dengan skor 18-21, 21-17, dan 21-16.
Hasil ini menambah panjang daftar final yang gagal dimaksimalkan oleh Fajar/Fikri dalam beberapa waktu terakhir.
Sudah 5 Kali Jadi Runner-up
Kegagalan di Singapore Open 2026 menjadi final kelima secara beruntun yang berakhir dengan status runner-up bagi Fajar/Fikri.
Catatan tersebut tentu menjadi perhatian besar mengingat keduanya sering tampil konsisten hingga partai puncak, tetapi belum mampu mengubah peluang menjadi gelar juara.
Sejak menjuarai China Open 2025, pasangan ini terus menunjukkan performa kompetitif di berbagai turnamen internasional.
Mereka berhasil menembus sejumlah final bergengsi seperti Korea Open, Denmark Open, French Open, Australian Open, hingga Singapore Open 2026.
Sayangnya, dalam lima kesempatan tersebut mereka selalu gagal meraih gelar juara.
Meski demikian, pencapaian menembus banyak final tetap menjadi bukti bahwa Fajar/Fikri masih berada di level atas persaingan ganda putra dunia.
Tidak banyak pasangan yang mampu menjaga konsistensi hingga babak akhir turnamen secara berulang.
Mental Jadi Masalah Utama
Salah satu faktor yang menjadi perhatian setelah hasil di Singapore Open adalah aspek mental bertanding. Dalam pertandingan level elite, kemampuan teknis saja sering kali tidak cukup untuk memenangkan laga-laga besar.
Tekanan saat bermain di final berbeda dibandingkan babak-babak sebelumnya. Pemain dituntut mampu mengelola emosi, menjaga fokus, dan tetap tenang dalam momen-momen krusial.
Fajar mengakui bahwa aspek mental masih menjadi bagian yang perlu ditingkatkan. Evaluasi tidak hanya dilakukan dari sisi latihan teknis maupun fisik, tetapi juga bagaimana menghadapi tekanan ketika peluang juara sudah berada di depan mata.
Hal ini menjadi langkah penting jika mereka ingin mengakhiri tren runner-up yang terus berulang.
Fajar/Fikri Tampil Cukup Konsisten
Di balik hasil yang mengecewakan, ada satu hal positif yang patut diapresiasi dari perjalanan Fajar/Fikri. Mereka tetap menunjukkan konsistensi luar biasa sepanjang turnamen.
Dalam dunia bulutangkis modern yang persaingannya semakin ketat, mencapai final bukanlah hal mudah. Setiap turnamen diikuti pasangan-pasangan terbaik dunia yang memiliki kualitas merata.
Kemampuan Fajar/Fikri untuk terus menembus semifinal hingga final menunjukkan bahwa mereka masih menjadi salah satu pasangan yang diperhitungkan di sektor ganda putra internasional.
Jika masalah penyelesaian akhir dan mental bertanding dapat diperbaiki, peluang mereka untuk kembali meraih gelar juara tentu masih sangat terbuka.
Indonesia Open 2026 Jadi Target Berikutnya
Usai Singapore Open, perhatian Fajar/Fikri kini tertuju pada Indonesia Open 2026 yang akan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta.
Turnamen bergengsi tersebut menjadi kesempatan berikutnya bagi mereka untuk bangkit sekaligus mengakhiri puasa gelar.
Bermain di hadapan pendukung sendiri tentu akan memberikan motivasi tambahan. Atmosfer Istora yang terkenal meriah sering menjadi energi positif bagi para pemain Indonesia untuk tampil lebih percaya diri.
Selain itu, Indonesia Open juga memiliki nilai prestisius yang sangat tinggi dalam kalender bulutangkis dunia. Gelar juara di turnamen ini selalu menjadi target utama bagi setiap pemain Indonesia.
Peluang Juara Masih Terbuka Sangat Lebar
Meski kembali harus puas menjadi runner-up, perjalanan Fajar/Fikri belum bisa dianggap gagal. Justru sebaliknya, hasil-hasil yang mereka raih menunjukkan bahwa pasangan ini masih memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi.
Tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal kemampuan bermain, melainkan bagaimana mengubah konsistensi menjadi trofi.
Dengan pengalaman yang semakin matang dan evaluasi yang tepat, peluang untuk kembali berdiri di podium tertinggi masih sangat besar.
Indonesia Open 2026 pun bisa menjadi momentum penting bagi Fajar/Fikri untuk membuktikan bahwa mereka mampu bangkit dan mengakhiri rentetan hasil runner-up yang terus membayangi dalam beberapa turnamen terakhir.






