Liganesia – Kegagalan Timnas Italia menembus Piala Dunia 2026 kembali memicu drama di balik layar.
Kali ini, sorotan tajam mengarah ke pucuk pimpinan federasi Gabriele Gravina.
Presiden FIGC itu kini berada di bawah tekanan besar setelah Gli Azzurri kembali gagal tampil di panggung sepakbola terbesar dunia.
Tersingkir Dramatis di Playoff
Harapan Italia sebenarnya sempat terbuka saat menghadapi Timnas Bosnia dan Herzegovina di babak playoff zona Eropa.
Mereka bahkan unggul lebih dulu lewat gol yang dicetak oleh Moise Kean pada menit ke 15.
Namun keunggulan tersebut tak mampu dipertahankan. Laga berakhir imbang hingga babak tambahan waktu.
Dan pada akhirnya, Italia harus tumbang lewat adu penalti dalam pertandingan yang berlangsung di Zenica.
Hasil ini langsung memastikan Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Tiga Kali Absen Secara Beruntun di Piala Dunia
Kegagalan ini bukanlah yang pertama. Italia kini tercatat sudah tiga edisi beruntun absen dari Piala Dunia, setelah sebelumnya juga gagal tampil pada tahun 2018 dan tahun 2022.
Padahal, status mereka sebagai salah satu raksasa sepakbola dunia jelas dipertaruhkan.
Terakhir kali Italia tampil di Piala Dunia yakni pada tahun 2014, sementara momen kejayaan terakhir datang saat mereka menjuarai Piala Dunia edisi 2006.
Kondisi ini tentu membuat banyak pihak menilai ada masalah yang cukup serius dalam sistem sepakbola Italia, mulai dari pembinaan pemain hingga kompetisi domestik.
Gravina Diserang, Tapi Belum Mau Mundur
Tekanan publik dan media terhadap Gabriele Gravina semakin deras. Banyak yang menilai ia harus bertanggung jawab atas kegagalan secara beruntun ini.
Meskipun begitu, Gravina belum menunjukkan tanda-tanda akan mundur secara sukarela.
Ia memilih menyerahkan keputusan tersebut kepada Dewan Federal FIGC yang akan menggelar rapat evaluasi dalam waktu dekat.
Langkah ini dianggap sebagai upaya menunggu keputusan resmi, sekaligus membuka peluang perubahan struktur di tubuh federasi.
Masa Depan FIGC di Ujung Tanduk
Rapat penting yang akan digelar pekan depan diprediksi akan menjadi titik krusial.
Selain membahas evaluasi performa tim nasional, agenda lain yang mencuat adalah kemungkinan pergantian kepemimpinan di FIGC.
Sejumlah laporan dari media lokal menyebut bahwa posisi Gravina semakin sulit untuk dipertahankan.
Jika tekanan terus meningkat, bukan tidak mungkin Italia akan memasuki era baru dalam kepengurusan sepakbola mereka.
Ironi Sang Juara Dunia
Situasi ini terasa ironis jika melihat sejarah besar Italia. Mereka punya empat trofi Piala Dunia dengan gelar terakhir diraih pada edisi 2006.
Namun dalam dua dekade terakhir, performa mereka di Piala Dunia cenderung menurun drastis. Bahkan, sekadar lolos ke putaran final kini menjadi tantangan yang cukup berat.
Kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026 bukan sekadar hasil buruk di lapangan, tapi juga cerminan masalah yang lebih dalam lagi.
Dan sekarang, semua mata tertuju pada keputusan FIGC. Apakah akan ada perubahan besar, atau Italia kembali terjebak dalam siklus yang sama?
Yang jelas, publik Italia sudah kehabisan kesabaran. Gagal lolos ke Piala Dunia tiga kali secara berturut-turut merupakan masalah besar yang harus segera diperbaiki.






